Sunnah, ditinjau dari segi bahasa ber-makna الطريقة (jalan) dan السيرة (perjalanan hidup). Adapun menurut istilah syari’at sun-nah adalah semua perkara yang bersumber dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam selain dari Al-Qur’anul karim baik berupa ucapan, perbuatan, taqrir (pembe-naran sikap beliau) dari hal-hal yang memiliki dalil secara syar’i.

Inilah sunnah yang kita maksud dalam pembahasan ini, bukan sunah dalam artian hukum fiqih, yaitu sesuatu yang jika dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak apa-apa.


Kalimat sunnah lebih luas maknanya da-ri pada itu. Segala sesuatu yang diperintah-kan, diajarkan dan dicontohkan oleh Rasu-lullah shalallahu 'alaihi wa sallam dinamakan sunnah. Dengan kata lain sunnah adalah ajaran nabi. Jika kita ditanya apa hukumya mengikuti ajaran nabi, niscaya semua kaum muslimin akan menjawab wajib. Dan sebaliknya, barangsiapa yang menging-kari ajaran Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam maka dia kafir.
...وَمَا ءَآتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا... الحشر: 7
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagi-mu, maka tinggalkanlah. (al-Hasyr: 7)
Dengan ayat ini Allah mewajibkan ke-pada manusia agar mentaati perintah Rasu-lullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan menjauhi larangan-larangannya. Barangsiapa yang mentaati Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam berarti dia mentaati perintah Allah. Dan barangsiapa yang tidak mentaatinya berarti dia tidak mentaati perintah Allah. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam ayat lain:
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا. النساء: 80
Barangsiapa yang menta'ati Rasul itu, se-sungguhnya ia telah menta'ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta'atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.(an-Nisa’: 80)
Ayat-ayat yang menunjukkan wajibnya taat kepada Rasululullah shalallahu 'alaihi wa sallam sangat banyak, di antaranya:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ... النساء: 59
Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. (an-Nisa’: 59)
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ... النور: 54
Katakanlah: "Ta'at kepada Allah dan ta'atlah kepada rasul... (an-Nuur: 54)

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ. ال عمران: 31
Katakanlah: "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." ِِِAllah Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang. (Ali Imron: 31)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلاَ تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ. مححد: 33
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kali-an merusak (pahala) amal-amalmu. (Muha-mmad: 33)

Demikian telah tegas dan jelasnya dalil-dalil serta banyaknya ayat yang menunjukkan wajibnya mentaati Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Allah mengancam orang-orang yang bermaksiat atau tidak mau taat kepadanya dengan neraka jahannam.
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا. الجن: 23
Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya bagi-nyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. (al-Jin: 23)

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا. النساء: 115
Dan barangsiapa yang menentang Rasul se-sudah jelas kebenaran baginya, dan meng-ikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kemba-li. (an-Nisa’: 115)

Bahkan Allah juga mengancam orang-orang yang menyelisihi perintah rasul dengan fitnah kekufuran dan kesesatan di samping adzab yang pedih dalam ucapan-Nya:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. النور: 63
maka hendaklah orang-orang yang menya-lahi perintah-Nya takut akan ditimpa coba-an atau ditimpa azab yang pedih. (an-Nuur: 63)
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا. الأحزاب: 36
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendur-hakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. (al-Ahzab: 36)

Hadits-hadits Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam merupakan penjelasan dari Al-Qur’an. Allah turunkan al-Qur’an ini agar Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam menerangkan-nya kepada manusia sebagaimana Allah sebutkan dalam surat an-Nahl:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ. النحل: 44
Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat ma-nusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka berpikir. (an-Nahl: 44)

Da juga dalam ayat lainnya:
وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلاَّ لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ. النحل: 64
Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petun-juk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (an-Nahl: 64)

Jika kita diperintahkan untuk berpegang teguh dengan al-Qur’an, tentunya diperintah-kan pula untuk berpegang dengan penjelasan dan maknanya yaitu sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda:
أَلاَ إِنِّيْ أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ. رواه أحمد وأبو داود والحاكم بسند صحيح
Sesungguhnya aku diberi al-Kitab dan yang semisal dengannya. (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dan Hakim dengan sanad yang shahih)

atau ucapan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam:
تَرْكُتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُ كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِيْ
Aku tinggalkan bagimu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat setelahnya yakni Kitab Allah dan Sunnahku.

Sebaliknya dengan mengikuti dan men-taati petunjuk Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam kita akan menda-patkan hidayah. Allah berfirman:
...وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا... النور: 54
...Dan jika kamu ta'at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk...(an-Nuur: 54)
Yang demikian, dikarenakan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam merupakan teladan dalam menerapkan al-Qur’an. Dengan kata lain beliau shalallahu 'alaihi wa sallam adalah al-Qur’an yang berjalan atau terjemahan al-Qur’an dalam kehidupan. Ketika Aisyah ditanya tentang perilaku dan akhlaq Rasu-lullah shalallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau menjawab:
كانَ خُلُقُهُمْ الْقُرْآنُ. رواه البخاري
Akhlaq Rasulullah adalah al-Qura’n.

Untuk itu barangsiapa yang ingin menerap-kan al-Qur’an dalam kehidupannya, maka ikutilah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dalam segala sisi kehidupannya.

كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. الأحزاب: 21
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasu-lullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rah-mat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (al-Ahzab: 21)

Oleh karena itu barangsiapa yang menolak sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam berarti dia menolak perintah-perintah Allah di atas dan akan terkena ancaman-ancaman yang telah tersebut.

Para ulama menganggap para peng-ingkar-pengingkar sunnah sebagai seorang yang kafir dan murtad, telah keluar dari ikatan keislaman. Hukum bagi mereka dalam daulah islamiyah adalah diminta taubat selama tiga hari, jika tidak mau bertaubat maka dipenggal lehernya.

Perhatikanlah ucapan salah seorang dari para ulama yaitu Imam Suyuthi: “Ketahuilah semoga Allah merahmati kalian, barangsiapa mengingkari hadits-hadits Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan (dengan syarat-syarat yang sudah ma’ruf) sebagai hujjah, maka dia telah kafir, keluar dari keislaman dan digabungkan bersama Yahudi dan Nashrani atau orang-orang yang Allah kehendaki dari kelompok-kelompok orang kafir. (Lihat Miftahul Jannah fil Ihtijaj bis Sunnah)

Demikian pula para ulama juga telah memperingatkan kaum muslimin untuk berhati-hati dari ahlul bid’ah yang kufur seperti mereka. Tidak duduk di majelis mereka, tidak bergaul dengan mereka, tidak mendengarkan ucapannya dan tidak berjalan bersamanya. (lihat Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits, Abu Utsman Ash-Shabuni; Syarhus Sunnah , al-Barbahari; Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah, Al-Lalikai dan lain-lainnya)

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam sudah mengisyaratkan akan munculnya manusia sejenis mereka da-lam sabda beliau shalallahu 'alaihi wa sallam, ketika beliau mengha-ramkan beberapa perkara seperti keledai jinak, binatang bertaring dan lain-lain pada perang Khaibar. Kemudian beliau berkata:
يُوْشِكُ أَحَدُكُمْ أَنْ يُكَذِّبُنِيْ وَهُوَ مُتَّكِئٌ يُحَدَّثُ بِحَدِيْثِي فَيَقُوْلُ: بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللهِ فَمَا وَجَدْنَا فِيْهِ مِنْ حَلاَلٍ اسْتَحْلَلْنَاهُ وَمَا وَجَدْنَا فِيْهِ مِنْ حَرَامٍ حَرَّمْنَاهُ. أَلاَ إِنَّمَا حَرَّمَ رَسُوْلُ اللهِ مِثْلَ مَا حَرَّمَ اللهُ. (أخرجه الحالكم والترمذي وابن ماجه بإسناد صحيح
Sebentar lagi akan muncul salah seorang kalian yang mendustakanku, dalam keadaan bersandar ketika disampaikan kepadanya haditsku dia berkata: “Antara kami dan ka-lian adalah al-Qur'an. Apa yang kita dapati di dalamnya halal, kita halalkan. Dan apa yang kita dapati di dalamnya haram, kita haramkan.” Ketahuilah sesungguhnya Rasu-lullah shalallahu 'alaihi wa sallam mengharamkan seperti Allah meng-haramkan. (HSR. Hakim, Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih) (Lihat wujubul amal bissunnah, Syaikh bin Baaz, hal. 14)

Dikatakan Rasulullah mengharamkan seperti Allah mengharamkan karena beliau adalah utusan Allah yang Allah perintahkan kepada manusia untuk mentaatinya. Maka perintah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam merupakan perintah Allah dan larangannya merupakan larangan Allah.

Rasulullah bersabda:
مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ عَصَى اللهُ. (رواه البخاري ومسلم
Barangsiapa yang taat kepadaku, berarti dia taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, berarti dia bermaksiat kepada Allah (HR. Bukhari Muslim)

Perlu diketahui bahwa barisan para pengingkar sunnah ada berbagai macam jenisnya. Ada yang mengingkarinya secara keseluruhan dan menamakan dirinya Qur’aniyyun (Golongan Qur’an) atau lebih dikenal dengan Ingkarus Sunnah (Golong-an pengingkar Sunnah). Kelompok ini telah dikafirkan oleh para ulama.

Ada pula yang mengingkarinya tidak secara keseluruhan. Mereka beranggapan bahwa ha-hal yang haram hanyalah dalam al-Qur'an. Demikian pula hal-hal yang wajib hanya apa yang diperintahkan oleh Allah. Adapun kalau Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam melarang, maka bukanlah haram tetapi makruh saja; dan kalau Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan sesuatu, maka ha itu bukan wajib, tapi anjuran saja.

Pendapat seperti ini banyak beredar di kalangan masyarakat kaum muslimin. Padahal konsekwensi dari pendapat ini sangat mengerikan. Mereka akan menghalalkan binatang bertaring seperti kucing dan anjing dengan dalih karena tidak terdapat dalam al-Qur'an. Mereka juga akan mengatakan bahwa shalat tidak harus seperti yang biasa kita lakukan, tapi cukup dilakukan pada pagi dan petang sebagaimana dalam al-Qur'an, karena rincian tata cara shalat hanya ucapan Rasu-lullah shalallahu 'alaihi wa sallam yang menurut mereka tidak wajib. Demikian pula emas dan sutera tidak haram bagi laki-laki, namun hanya makruh saja dan pendapat-pendapat yang menyimpang lain-nya.

Untuk mereka ini kita ingatkan bahwa hukum asal dari perintah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam adalah wajib, kecuali jika ada dalil lain yang menu-runkannya menjadi mustahab (anjuran). Sebaliknya hukum asal dari larangan Rasu-lullah shalallahu 'alaihi wa sallam adalah haram, kecuali ada dalil lain yang menurunkannya menjadi makruh. Inilah kaidah ushul fiqh yang dipahami dan diikuti oleh para ulama sejak salafus sholeh.

Ada pula jenis pengingkar sunnah yang menolak sebagian sunnah dan menerima sebagiannya. Yaitu para ash-habur ra'yi (rasionalis) yang menolak semua hadits-hadits yang menurut mereka bertentangan dengan akal. Kelompok inipun tidak kalah sesatnya, ia termasuk para penerus kesesatan mu’tazilah yang mendahulukan atas atas naql (dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Read More......

SYIRIK
Meminta Syafa'at Kepada Orang Mati


Di samping alasan tawassul sebagai-mana telah disinggung pada edisi yang lalu, alasan lainbagi para penyembah kubur adalah mengharapkan pembelaan dan syafaat. Seakan-akan mereka lebih mengetahui dari Allah dan Rasul-Nya tentang syafaat.

Hal ini persis seperti alasan kaum musyrikin jahiliyah semasa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam diutus. Padahal Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan akan hal itu? Bahkan beliau melarang umatnya dari perbuatan-perbuatan seperti itu. Apakah mereka mau mengajari Allah tentang agama ini?! Ingatlah! Agama ini milik Allah. Untuk itu seluruh amalan, bentuk dan tata cara ibadah sudah seharusnya sesuai dengan aturan dari Allah dan utusan-Nya

Perhatikan firman Allah berikut:
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاَءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لاَ يَعْلَمُ فِي السَّمَوَاتِ وَلاَ فِي اْلأَرْضِ سُبْحَانَه ُوَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ. يونس: 18
Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah ka-mu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan (itu). (Yunus: 18)

Ketahuilah, bahwa syafaat atau pembe-laan memang diakui keberadaannya. Hal itu akan terjadi pada hari kiamat kelak, khusus-nya pembelaan dan syafaat dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam yang dikenal dengan syafa’atul udzma. Na-mun harus kita ketahui bahwa syafaat dan pembelaan terhadap seseorang di hadapan Allah tidak mungkin akan terwujud kecuali dengan seizin Allah. Demikian pula tidak mungkin seseorang mendapatkan syafaat atau pembelaan dari orang lain kecuali dari orang-orang yang diridlai oleh Allah Azza wa Jalla.

Allah Azza wa Jalla memerintahkan agar Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan manusia akan adanya hari perhitungan dan hisab, dimana pada hari itu tidak bermanfaat syafa’at dan pembelaan siapapun.
وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْ يُحْشَرُوا إِلَى رَبِّهِمْ لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُونِهِ وَلِيٌّ وَلاَ شَفِيعٌ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ. (الأنعام: 51
Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka ti-dak ada seorang pelindung dan pemberi syafaat pun selain daripada Allah, agar me-reka bertakwa. (al-An’am: 51)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa mereka yang tidak mau mengindahkan peringatan dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam akan diadzab dan tidak akan ada seorang pun yang dapat membe-lanya. Dalam ayat ini pula seakan-akan menunjukkan tidak adanya syafa’at pada hari kiamat. Namun yang dimaksud adalah tidak adanya syafaat bagi orang-orang kafir atau orang-orang yang tidak diberikan izin dan keridlaan dari Allah.

Di dalam ayat lain Allah menyatakan bahwa syafaat seluruhnya milik Allah. Oleh karena itu janganlah dengan alasan tersebut mereka meminta kepada kuburan-kuburan orang-orang shalih atau berdoa kepada orang mati. Berdoa dan mintalah kepada Allah, karena Dia-lah yang telah menentukan siapa yang boleh memberikan pembelaan dan siapa yang diridlai untuk mendapatkan pembelaan.
أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لاَ يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلاَ يَعْقِلُونَ. قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ. الزمر: 44
Bahkan mereka mengambil sesembahan se-lain Allah sebagai pemberi syafa'a. Katakan-lah: "Apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?" Katakanlah: "Hanya ke-punyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepu-nyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemu-dian kepada-Nyalah kamu dikembalikan" (az-Zumar: 43-44)

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلاَ شَفِيعٍ أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ. السجدة: 4
Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya da-lam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain da-ri padaNya seorang penolongpun dan ti-dak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apa-kah kamu tidak memperhatikan? (as-Sajdah: 4)

Adapun jika dalam al-Qur’an terdapat ayat dan dalil-dalil yang menetapkan adanya syafaat, maka yang dimaksud adalah syafaat yang terjadi setelah mendapatkan izin dari Allah Azza wa Jalla:
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ. البقر: 255
Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? (al-Baqarah: 255)

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَوَاتِ لاَ تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلاَّ مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى. النجم: 26
Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, ke-cuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya). (an-Najm: 26)

Dalam ayat kursi, ayat teragung dalam kitab Allah di atas, secara umum dinafikan adanya syafaat kecuali bagi orang-orang yang telah diizinkan. Sedangkan dalam surat an-Najm dijelaskan bahwa malaikat pun tidak dapat memberikan syafaat kecuali setelah diizinkan oleh Allah dan diperuntukan bagi orang yang diridlai-Nya.

Dari dua ayat di atas, jelaslah bahwa syafaat itu hanya milik Allah semata. Tidak ada yang berhak memberikan syafaat kecuali dengan seizin-Nya dan tidak akan menda-patkan syafaat kecuali orang yang diridlai-Nya. Untuk itu, bagi seorang yang cerdas dia hanya akan meminta syafaat kepada pemi-liknya. Meminta kepada Allah syafaat nabi-Nya dan syafaat atau pembelaan para malai-kat-Nya dan seterusnya.

Adapun meminta kepada selain Allah untuk mendapatkan pembelaan di hari kiamat, maka ini adalah inti dari kesyirikan yang terjadi pada zaman jahiliyah yaitu za-man kebodohan. Biasanya, alasan kaum musyrikin menyembah sesuatu, baik kuburan, orang yang telah mati, tempat-tempat atau benda-benda yang dianggap keramat dan lainnya adalah karena menganggap sesem-bahan tersebut memiliki apa yang mereka minta, atau dianggap ikut andil dalam memiliki, atau dianggap yang ikut membantu dan bekerjasama dengan pemiliknya, atau dianggap dapat membelanya di hadapan sang pemilik pada hari kiamat kelak.

Semua alasan dan anggapan tersebut ditiadakan dan dibantah oleh Allah Azza wa Jalla dalam ayat-Nya:
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ. وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ... سباء: 22-23
Katakanlah: "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi. Dan sekali-kali tidak ada di an-tara mereka yang menjadi pem-bantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafa'at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa'at itu… (Saba’: 22-23)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Allah Azz wa Jalla telah memutus semua alasan-alasan yang dipegang oleh kaum musyrikin. Seorang musyrik mengambil sesembahannya hanyalah karena apa yang diharapkannya dari manfaat. Sedangkan manfaat tersebut tidak akan didapati, kecuali jika sesembahan tersebut memi-liki salah satu dari empat kriteria:
1. Bisa jadi karena sesembahan tersebut di-anggap pemilik dari apa yang diinginkan oleh penyembahnya.
2 Sesembahan tersebut dianggap bersekutu dengan pemiliknya (Allah).
3. Sesembahan tersebut dianggap sebagai pembantunya.
4. Sesembahan tersebut dianggap dapat men-jadi pembelanya di hadapan sang pemilik.
Maka Allah meniadakan keempat alasan tersebut dengan peniadaan yang berurutan, berpindah dari yang paling tinggi kepada yang di bawahnya. Pertama, Allah membantah adanya pemilik selain Dia. Kemudian menia-dakan adanya sekutu yang bersekutu dengan-Nya. Kemudian meniadakan pula adanya pembantu bagi Allah dan terakhir meniada-kan pula syafaat yang diharapkan oleh si musyrik tersebut. Setelah itu Allah mene-tapkan adanya syafaat, dimana kaum musy-rikin tidak akan mendapatkan bagian dari-padanya. Yaitu syafaat orang yang diizinkan untuk orang yang diridlai.

Yang berhak memberikan syafaat

Kalau begitu siapakah yang paling mulia mendapatkan izin dari Allah Azza wa Jalla untuk memberikan syafaat? Dan siapakah yang paling berbahagia mendapatkan keridlaan dari Allah sehingga mendapatkan syafaat dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam?

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling mulia yang diizinkan oleh Allah untuk memberikan syafaat dikala orang-orang lain tidak sanggup untuk melakukannya. Inilah syafaat yang paling besar, dimana para rasul yang termasuk ulul azmi pun tidak sanggup memikulnya pada saat seluruh manusia me-minta kepada para nabi untuk memintakan keringanan di hadapan Allah di padang mah-syar yang sangat berat. Mereka semuanya menolak dan mengatakan: “nafsi nafsi” (diri-ku, diriku). Hingga akhirnya ketika mereka mendatangi Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, maka Rasulullahshalallahu 'alaihi wa sallam mengatakan: “Ana laha” (itulah bagianku). Kemudian Rasulullah sujud di hadapan Allah, di bawah Arsy-Nya. Beliau memuji Allah dan menyanjungnya dengan pujian-pujian yang tidak pernah diucapkan sebelumnya oleh siapapun. Hingga kemudian Allah berfirman:
يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَاسْأَلْ تُعْطَهُ وَاشْفَعْ تُشَفَّعُ
Ya Muhammad angkatlah kepalamu, min-talah akan Aku beri dan berilah syafaat Aku akan memberikannya.”

Maka Rasulullah pun mengangkat kepalanya dan berkata: “Umatku, umatku”. Kemudian diperintahkan dengan segera kepada orang-orang dari umatnya yang tidak ada hisab pa-danya untuk masuk ke dalam surga.

Beliau melakukannya lagi, hingga diizinkan untuk memberikan syafaat. Beliau meminta agar disegerakan bagi ahli surga dari umatnya untuk segera memasukinya.
Selanjutnya Rasulullahshalallahu 'alaihi wa sallam melakukannya kembali dan kemudian beliau memberikan syafaat bagi para pelaku maksiat dari umat-nya yang seharusnya mendapatkan adzab dalam neraka untuk tidak memasukinya.

Kemudian beliau memberikan syafaat kepada orang-orang yang telah masuk neraka, namun masih memiliki tauhid dan keimanan untuk diselamatkan dari api neraka. Yang terakhir, syafaat Rasulullah untuk penduduk surga agar ditambahkan pahala mereka dan diangkat derajat mereka.

Hadits-hadits tentang syafaat ini muta-watir dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan lain-lainnya.

Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa seluruh syafaat dan pembelaan Rasulullah tersebut diberikan kepada orang-orang yang bertauhid dan tidak melakukan kesyirikan-kesyirikan. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang shahih dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ketika beliau bertanya kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam :
مَنْ أَسْعَدَ النَّاسُ بِشَفَاعَتِكَ؟ قَالَ: مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهِ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ. (أخرجه البخاري والنسائ وأحمد
Siapakah orang yang paling berbahagia mendapatkan syafaatmu? Beliau menjawab: “Orang-orang yang mengucapkan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهِ dengan ikhlas dari hatinya”. (HR. Bukhari , Nasai dan Imam Ahmad)

Seorang yang ikhlas mengucapkan
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهِ adalah mereka yang tidak merusak kalimat tersebut dengan kesyirikan-kesyirikan. Sebagaimana dalam riwayat lain dika-takan bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ. فَتَجْعَلْ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّيْ اخْتَبَأْتُ شَفَاعَةً ِلأُمَّتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِِ. فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ الله مَنْ مَاتَ لَمْ يُشْرِكْ بِاللهِ شَيْئًا. (أخرجه مسلم
Setiap nabi memikiki doa yang dikabulkan, dan mereka telah menyebutkan doa tersebut, sedangkan aku menundanya sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat. Maka sya-faat ini pasti akan didapatkan insya Allah oleh orang yang mati dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. (HR. Muslim dalam Shahihnya)

Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang meminta syafa’at kepada kuburan-ku-buran para nabi atau pada kuburan orang-orang yang shalih justru tidak akan menda-patkan syafa’at karena perbuatan syiriknya tersebut.

Wallahu a’lam

Ustadz Muhammad Umar As-Sewed


Read More......

TAUHID
DAKWAH PARA RASUL

Telah kita ketahui pada edisi yang lalu bahwa tauhid merupakan sebuah pohon di dalam hati yang cabangnya adalah amalan yang shalih dan buahnya adalah kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ24تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُون َابراهيم: 24-25
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap saat dengan seizin Rabb-nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk ma-nusia supaya mereka selalu ingat. (Ibra-him: 24-25)

Ilmu Tauhid ini merupakan dasar yang dibangun di atasnya amalan-amalan shalih. Maka tentu saja merupakan prioritas dakwah para nabi dan para rasul, termasuk nabi kita Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam.

Dakwah Beliau shalallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya adalah dakwah tauhid dan tidak pernah beliau shalallahu 'alaihi wa sallam lepas daripadanya. Dakwah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam diawali dengan tauhid, diiringi dengan tauhid dan diakhiri pula dengan tauhid.
Diawali dengan ucapan beliau shalallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana dikisahkan oleh Abu Sufyan radhiallahu 'anhu ketika dia bersama rombongan dagang kaum Quraisy tiba di Romawi dan dipanggil oleh raja Heraklius. Sang raja bertanya tentang orang yang mengaku sebagai Nabi di Mekah. Di antara pertanyaannya adalah: “Apakah yang dia dakwahkan?” Abu Sufyan menjawab: “Dia berkata:
قُوْلُوْا لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ تُفْلِحُوْا ( رواه البخاري
“Ucapkanlah لا إله إلا الله kalian akan selamat. (HR. Bukhari)

Dan dalam perjalanan dakwahnya beliau shalallahu 'alaihi wa sallam selalu mengingatkan dengan tauhid. Setiap menyampaikan satu hukum atau perintah ibadah kepada umatnya senantiasa Beliau mengingatkan bahwa hal itu adalah ibadah kepada Allah yang harus diberikan kepada-Nya dengan ikhlas dan tidak boleh dicampur dengan tujuan-tujuan lain seperti riya’ atau kesyirikan-kesyirikan lainnya. Seperti ketika memerintahkan tentang ibadah shalat dan berqurban:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. الكوثر: 2
Maka dirikanlah shalat untuk Rabb-mu dan berkurbanlah. (al-Kautsa: 2)

Demikian pula setiap beliau berangkat bersama para shahabat berjihad, beliau selalu mengingatkan agar mereka jangan memakai jimat, kalung atau gelang-gelang tertentu un-tuk tolak bala dan kekebalan atau menggan-tung-gantungkan pedangnya di pohon terten-tu untuk mencari kehebatan dan kekuatan.

Kita lihat pada satu riwayat, ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dalam satu perjalanan jihad, Rasulullah bersabda kepada Ruwaifi’:
يَا رُوَيْفِعُ، لَعَلَّ الْحَيَاةَ تَطُوْلُ بِكَ، فَأَخْبِرِ النَّاسَ أَنَّ مَنْ عَقَدَ لِحْيَتَهُ أَوْ تَقَلَّدَ وِتْرًا أَوِ اسْتَنْجِي بِرَجِيْعِ دَابَّةٍ اَوْ عَظْمٍ فَإِنَّ مُحَمَّدًا بَرِيْئٌ مِنْهُ. (رواه أحمد عن رويفع
Wahai Ruwaifi’, barangkali engkau akan menjalani kehidupan yang panjang. Kabar-kanlah kepada manusia bahwa barangsiapa yang memintal jenggotnya, menggantung-kan jimat, atau beristinja’ (bersuci) dengan kotoran hewan dan tulang, maka sesungguh-nya Muhammad berlepas diri darinya. (HR. Ahmad dari Ruwaifi’)

Ini semua dalam rangka menjaga tauhid me-reka dari noda-noda syirik.
Demikian pula di akhir kehidupan beliau shalallahu 'alaihi wa sallam. Ketika beliau shalallahu 'alaihi wa sallam akan wafat, beliau ber-wasiat dengan tauhid.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي لَمْ يَقُمْ مِنْهُ لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ قَالَتْ فَلَوْلَا ذَاكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ غَيْرَ أَنَّهُ خُشِيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا . (متفق عليه
Ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam terkena sakit yang menyebabkan beliau tidak dapat bangun. Beliau shalallahu 'alaihi wa sallambersabda: “Allah telah mengutuk orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka telah menjadikan kubur Nabi-nabi mereka sebagai masjid”. Aisyah radhiallahu 'anha berkata: “Jika tidak karena itu tentu kuburan beliau akan ditempatkan (di Baqie’). Namun Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam khawatir akan dijadikan sebagai masjid. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dalam riwayat lain dalam al-Muwattha’:
أَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِيْ وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللهُ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ. (رواه مالك في الموطأ
Ya Allah janganlah Engkau menjadikan ku-burku berhala yang disembah. Sungguh besar kemurkaan Allah terhadap kaum yang menjadikan kuburan nabi-nabinya sebagai masjid. (HR. Malik dalam Muwatha’)

Demikianlah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam memulai dak-wahnya dengan tauhid, mengiringi dengan tauhid dan mengakhirinya pula dengan tau-hid. Dan beliau shalallahu 'alaihi wa sallam senantiasa mewasiatkan umatnya dengan tauhid.

Wasiat merupakan pesan terakhir dalam kehidupan seseorang. Tentunya yang akan disampaikan adalah perkara yang paling uta-ma dan paling penting. Karena ia tidak akan sempat lagi menyampaikan sesuatu apapun setelah itu. Maka disinilah terlihat apa yang dianggap paling penting oleh seseorang da-lam hidupnya. Sebagian manusia mewasiatkan tentang hartanya. Sebagian lainnya me-wasiatkan untuk menjaga keluarga-keluarga-nya. Sebagian lainnya ada yang mewasiatkan dengan perusahaannya, karena itulah yang terpenting dalam kehidupan mereka.

Adapun wasiat para nabi adalah tauhid, yang menunjukkan bahwa yang paling pen-ting bagi mereka adalah tauhid. Allah Azza Wa Jalla berfirman:
وَوَصَّى بِهَآ إِبْرَاهِمُْ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. البقرة: 132
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’-qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kalian mati kecuali dalam (keadaan) islam. (al-Baqarah: 132)

Berkata Ibnu Katsier dalam tafsirnya bahwa makna islam adalah pasrah dan berserah diri dengan beribadah hanya kepada Allah saja.

Demikian pula wasiat Luqman al-Hakim kepada anaknya, diawali dengan tauhid:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ. لقمان: 13
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata ke-pada anaknya, di waktu ia memberi pela-jaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguh-nya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar”. (Luqman: 13)

Yang demikian karena para nabi seluruhnya mementingkan dan mengutamakan tauhid. Bahkan inti dakwah mereka adalah tauhid. Yaitu memerintahkan kepada kaumnya agar beribadah kepada Allah saja.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ.... النحل: 36
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus para rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”… (an-Nahl: 36)

Allah menjelaskan dakwah para rasul-Nya dengan rinci pada berbagai firman-Nya, di antaranya tentang nabi Nuh alaihis sallam:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ. المؤمنون: 23
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah (ka-rena) sekali-kali tidak ada sesembahan bagi-mu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?" (al-Mu’minun: 23)

Kemudian nabi Ibrahim, bapak para nabi alaihis sallam:
وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. العنكبوت: 16
Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: "Beribadahlah kepada Allah dan bertaqwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (al-Ankabut: 16)

Sedangkan tentang nabi Isa alaihis salam Allah berfirman:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَار. المائدة: 72
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al- Masih putera Maryam", padahal Al-Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, ber-ibadahlah kepada Allah Rabb-ku dan Rabb-mu". Sesungguhnya orang yang memperse-kutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang peno-longpun. (al-Maidah: 72)

Dan tentang Nabi Hud alaihis sallam Allah berfirman:
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ. الأعراف: 65
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak ber-taqwa kepada-Nya ?" (al-A’raaf: 65)

Tentang Nabi Shalih diterangkan dalam ayat-Nya:
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ ءَايَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. الأعراف: 73
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: "Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang buk-ti yang nyata kepadamu dari Rabb-mu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kalian mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih." (al-A’raaf: 73)

Dan Nabi Syu’aib Allah kisahkan juga dengan ucapan yang sama, yaitu: “beribadahlah kepada Allah dan tidak ada bagi kalian sesembahan kecuali Dia”.
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. الأعراف: 85
Dan (Kami telah mengutus) kepada pendu-duk Madyan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepada-mu bukti yang nyata dari Rabb-mu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kalian ku-rangkan bagi manusia barang-barang ta-karan dan timbangannya, dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi sesudah Rabb-mu memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman". (al-A’raaf: 85)

Demikianlah kenyataan dakwah para nabi di dalam sejarah mereka yang dise-butkan dalam al-Qur’an maupun dalam ha-dits yang shahih. Inti dakwah mereka adalah tauhid. Hal ini tidak seperti apa yang ditaf-sirkan oleh para politikus yang mengesankan bahwa dakwah para nabi adalah dakwah po-litik. Seperti pertikaian nabi Ibrahim dengan Raja Namrud, nabi Musa dengan raja Fir’aun dan lain-lainnya. Mereka mengesankan bah-wa perjuangan para nabi tersebut adalah per-juangan pemberontakan dan perebutan ke-kuasaan. Seperti dalam buku yang ditulis oleh muhammad Surur bin Naif Zaenal Abidin “Minhaj al-Anbiyaa’ fi ad-Da’wati ilallah”. Namun alhamdulillah buku tersebut sudah dibantah oleh Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali dalam buku beliau “Manhaj al-Anbiyaa’ fi da’wati ilallah fiihi al-Hikmah wal ‘Aql” (Manhaj Para Nabi Dalam Berdakwah Kepada Allah, di dalamnya ada hikmah dan akal)” dan juga karya Syaikh Ahmad Salam dalam tulisannya yang berjudul “Nadharaat fii Kitab “Minhajul Anbiya’ fi ad-Dakwati Ilallah”” (Koreksi Ulang terhadap kitab “Manhaj Para Nabi Dalam Berdakwah Kepada Allah”

Oleh karena itu sudah sepantasnya dakwah para rasul tersebut dijadikan sebagai teladan bagi seluruh dakwah-dakwah kaum muslimin yakni memulainya dari tauhid dan terus mengingatkan dengan tauhid. Karena semua dakwah yang tidak dimulai dengan tauhid dan tidak mementingkan tauhid selalu berakhir dengan penyimpangan dan kesesatan.

Akan tetapi mengapa kaum muslimin harus tersinggung ketika diajarkan kepada mereka makna لا إله إلا الله. Mengapa mereka ha-rus marah ketika disampaikan bahaya kesyi-rikan-kesyirikan seperti tawasul kepada orang-orang yang sudah mati, jimat-jimat, perdukunan-perdukunan, atau mencari ber-kah di kuburan walisongo atau kuburan-kuburan lainnya, mencari jodoh di tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti sumur tujuh, gunung kemukus dan lain-lainnya? Mereka selalu melecehkan dakwah tauhid dengan menjulukinya wahabi, tekstual, kaku, membuat perpecahan dan lain-lain. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Semoga Allah memberikan petunjuk ke-pada kita dan seluruh kaum muslimin kepada tauhid dan sunnah. Dan semoga hati-hati kita ditetapkan di atasnya sampai hari kiamat, amien.

Ustadz Muhammad Umar Assewed

Read More......

SYARAT-SYARAT TAUHID

Kalimat tauhid mempunyai keuta-maan yang sangat agung. Dengan kalimat tersebut seseorang akan dapat masuk surga dan selamat dari api neraka. Sehingga dikata-kan bahwa kalimat tauhid merupakan kunci surga. Barangsiapa yang akhir kalimatnya adalah لا إله إلا الله maka dia termasuk ahlul jannah (penghuni surga).

Namun sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh dalam kitab Fathul Majid bahwa setiap kunci memiliki gigi-gigi. Dan tanpa gigi-gigi tersebut tidak dapat dikatakan kunci dan tidak bisa dipakai untuk membuka. Gigi-gigi pada kunci surga tersebut adalah syarat-syarat لا إله إلا الله. Barang siapa memenuhi syarat-syarat tersebut dia akan mendapatkan surga, sedangkan barang-sapa yang tidak melengkapinya maka ucapan-nya hanya igauan tanpa makna.

Ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam memberikan jaminan surga kepada orang-orang mukmin, Rasulullah menyebutkannya degan lafadz:
مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ..... (متفق عليه
Barang siapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diiba-dahi kecuali Allah… (HR. Bukhari Muslim)

Lafadz شهد (bersaksi) bukanlah sekedar ucapan, karena persaksian lebih luas makna-nya daripada ucapan. Lafadz ini mengandung ucapan dengan lisan, ilmu, pemahaman, keyakinan dalam hati dan pembuktian dengan amalan.

Bukankah kita ketahui bahwa seseorang yang mempersaksikan suatu persaksian di hadapan hakim di pengadilan, tidak akan diterima jika saksi tersebut tidak mengetahui? Atau ia tidak memahami apa yang dia ucap-kan? Bukankah jika ia berbicara dengan ragu dan tidak yakin juga tidak akan diterima persaksiannya? Demikian pula persaksian se-seorang yang bertentangan dengan perbu-atannya sendiri, tidak akan dipercaya oleh pengadilan manapun. Hal ini jika ditinjau dari makna شهد (mempersaksikan).

Oleh karena itu sebatas mengucapkan-nya tanpa adanya pengetahuan tentang mak-nanya, keyakinan hati, dan tanpa pengamalan terhadap konsekwensi-konsekwensinya baik berupa pensucian diri dari noda kesyirikan maupun pengikhlasan ucapan dan amalan –ucapan hati dan lisan, amalan hati dan anggo-ta badan- maka hal tersebut tidaklah berman-faat menurut kesepakatan para ulama (lihat Fathul Majid, Abdurrahman Alu Syaikh, hal. 52)

Itulah hakikat makna syahadat yang harus ditunjukkan dengan adanya keikhlasan dan kejujuran yang mana keduanya harus berjalan beriringan dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Jika tidak mengikhlaskan persaksiannya berarti dia adalah musyrik dan apabila tidak jujur dalam persaksiannya berarti dia munafiq.

Jadi, persaksian dengan kalimat لا إله إلا الله yang merupakan kunci untuk membuka pintu surga tentu harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut:

Syarat pertama: Ilmu
yaitu pengetahuan terhadap makna syahadat yang membuahkan peniadaan terhadap kebo-dohan. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ.... محمد: 19
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya ti-dak ada Ilah (sesembahan) yang patut diiba-dahi kecuali Allah .... (Muhammad: 19)

dan dalam hadits disebutkan:
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ. (رواه مسلم عن عثمان بن عفان
Barangsiapa yang mati, sedangkan ia me-ngetahui bahwa tidak ada ilah yang patut diibadahi kecuali Allah, maka ia akan masuk surga (HR. Muslim)


Syarat kedua: Yakin
Yaitu keyakinan dengan tanpa keraguan terhadap kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. Hal tersebut tidak akan terwujud kecuali jika seseorang meng-ucapkannya dalam keadaan yakin terhadap kandungan makna dari persaksiannya.

Dalilnya adalah firman-Nya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا...الحجرات: 15
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu ... (al-Hujurat: 15)

Untuk membuktikan kebenaran keimanan-nya, Allah memberikan syarat adanya keya-kinan pada keimanannya ini. Karena orang yang ragu dalam keimanannya tidak lain hanyalah orang-orang munafiq –wal iyadzu billah- sebagaimana yang diterangkan dalam ayat-Nya:
إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ. التوبة: 45
Sesungguhnya yang akan meminta izin ke-padamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-annya.(at-Taubah: 45)

Adapun dalil dari sunnah adalah sebagaima-na disebutkan dalam hadits:
مَنْ لَقِيْتُ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبَهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ. (رواه مسلم عن أبي هريرة
Barangsiapa yang menemui-Ku dari balik tabir ini yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang patut diibadahi ke-cuali Allah dengan yakin terhadapnya dalam hatinya, maka berilah kabar gembira kepa-danya dengan surga. (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Syarat ketiga: Menerima
Yaitu menerima segala konsekwensi-konsek-wensi dari kalimat syahadat baik dengan hatinya maupun dengan lisannya. Tidak se-perti kaum musyrikin yang tidak mau mene-rima konsekwensi kalimat tauhid yaitu me-ninggalkan sesembahan-sesembahan mereka.

Allah Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ . وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ الصافات: 36
Sesungguhnya mereka dahulu apabila dika-takan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sem-bahan kami karena seorang penyair gila?" (ash-Shafat: 35-36)

Adapun dalil dari hadits adalah:
إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَ لِغَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ
فَأَنْبَتَتِ الْكَـَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَـَلأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِيْنِ اللهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ. (رواه البخاري

Sesungguhnya permisalan apa-apa yang Allah Azza wa Jalla telah mengutusku dengan petunjuk dan ilmu ini adalah bagaikan hujan yang membasahi bumi. Ada di antara bumi yang subur, ia dapat menerima air, menumbuh-kan pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan yang banyak. Ada pula bumi yang tidak subur, ia tidak dapat menerima air tesebut, namun Allah memberikan manfaat bagi ma-nusia, hingga mereka dapat minum darinya dan menggembalakan ternaknya. Dan ada pula bumi lain yaitu padang pasir yang tidak bisa menerima air dan tidak pula dapat menumbuhkan pohon-pohonan. Maka demikianlah permisalan bagi siapa yang paham terhadap agama Allah dan dapat mengambil manfaat dari apa-apa yang Allah mengutusku dengannya maka dia mengetahui dan mengajarkannya. Dan per-misalan bagi siapa yang tidak mengangkat kepalanya dengan hal itu dan tidak me-nerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya. (HR. Bukhari)

Syarat keempat: Tunduk
yaitu tunduk dan menerima konsek-wensi-konsekwensi kalimat .لا إله إلا الله Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ اْلأُمُورِ. لقمان: 22
Dan barangsiapa yang menyerahkan diri-nya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (Luqman: 22)

Syarat kelima: Jujur
Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan mengucapkannya secara jujur dari dalam hatinya. Maka jika mengucapkan syahadat dengan lisannya akan tetapi tidak dibenarkan oleh hatinya berati dia adalah munafiq, pendusta.
Allah berfirman:
الم(1)أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ 2 وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ العنكبوت: 3
Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengata-kan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah menge-tahui orang-orang yang jujur dan se-sungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (al-Ankabut: 1-3)

dan sabda Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam:
مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ . (رواه البخاري
Tidaklah dari salah seorang di antara kalian yang bersaksi bahwasanya tidak ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwasa-nya Muhammad adalah utusan Allah dengan jujur dari lubuk hatinya, kecuali Allah akan mengharamkannya dari api neraka. (HR. Bukhari)

Syarat keenam: Ikhlas
yaitu keikhlasan yang bermakna memur-nikan, maka apabila ibadahnya diberikan pula kepada selain Allah, maka hilanglah keikh-lasan dan jatuh ke dalam kesyirikan. Maka keikhlasan harus meniadakan bentuk amalan kesyirikan, kemunafiqan, riya’ dan sum’ah. Allah Azza wa Jalla berfirman:
...فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ. الزمر: 2
…Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan agama kepada-Nya. (az-Zu-mar: 2)
وَمَآ أُمِرُوآ إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ...
Padahal mereka tidak disuruh kecuali su-paya beribadah kepada Allah dengan me-murnikan ibadah kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. (al-Bayyinah: 5)

dan dalam hadits:
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ. (رواه البخاري
Manusia yang paling berbahagia dengan syafa’atku di hari kiamat adalah seseorang yang berkata لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ dengan ikhlas dari lubuk hatinya. (HR. Bukhari)

Syarat ketujuh: Kecintaan
yaitu kecintaan kepada Allah, terhadap kali-mat syahadat ini, terhadap konsekwensi-kon-sekwensinya, terhadap orang-orang yang me-ngamalkannya dan berpegang teguh dengan syarat-syaratnya serta benci terhadap perka-ra-perkara yang membatalkan syahadat. Se-bagaimana firman-Nya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ.... البقرة: 165
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan se-lain Allah; mereka mencintainya sebagai-mana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (al-Baqarah: 165)

dan sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam:
مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانَ أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهُ أنَ ْيَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يَْقذِفَ فِي الناَّرِ. (رواه البخاري
Barangsiapa yang ada padanya (tiga per-kara ini) maka ia akan mendapatkan manis-nya keimanan. Yakni jika ia lebih mencin-tai Allah dan rasul-Nya daripada selain ke-duanya, dan jika mencintai seseorang, ti-daklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan benci pada kekafiran sebagaimana ke-benciannya untuk dilemparkan ke dalam api neraka. (HR. Bukhari)

Syarat kedelapan: Mengingkari Thaghut
yaitu segala sesuatu yang diibadahi selain Allah. Bentuk-bentuknya bisa bermacam-macam, bisa dalam bentuk jin, manusia atau pun pohon-pohonan dan hewan-hewan. Dide-finisikan oleh Ibnul Qayyim dengan ucapan-nya: “Thaghut adalah segala sesuatu yang me-nyebabkan manusia keluar dari batas keham-baannya kepada Allah apakah dalam bentuk matbu’ (panutan), ma’bud (sesembahan) atau mutha’ (yang ditaati)”. Atau dengan kata lain sesuatu yang menyebabkan seseorang menjadi kufur dan syirik.

Maka pimpinan thaghut yang harus diingkari pertama adalah setan, kemudian dukun-dukun yang datang pada mereka setan-setan, kemudian semua yang diibadahi selain Allah dalam keadaan ridha yang meng-ajak manusia untuk beribadah kepada diri-nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
...قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. البقرة: 256
Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu ba-rangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguh-nya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (al-Baqarah: 256)

dan dalam hadits:
مَنْ قالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَرَّمَ مَالُهُ وَدَمُّهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ. (رواه مسلم
Barangsiapa yang berkata لا إله إلا الله dan me-ngingkari terhadap apa-apa yang diibada-hi selain Allah, maka haram harta dan da-rahnya. Adapun perhitungannya ada pada sisi Allah (HR. Muslim). Wallahu a’lam.

Ustadz Muhammad Umar As-sewed

Read More......

TAWASSUL

Setelah pada edisi yang lalu kita me-ngetahui bahaya kesyirikan yang sangat besar di dunia dan akhirat, kita perlu mengetahui secara rinci bentuk-bentuk kesyirikan yang banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Di antara bentuk-bentuk yang banyak terjadi pada mereka adalah berdoa dan me-minta pada kuburan-kuburan yang dianggap keramat, kepada orang-orang shalih yang telah mati atau kepada jin-jin dan malaikat-malaikat. Banyak pula di antara mereka yang bertawassul (mengambil perantara) dengan ruh atau kedudukan nabi dan bertawassul dengan kemuliaan para wali dan orang-orang shalih (yang sudah mati). Jika kita mencer-mati nash-nash dalam al-Qur’an maupun sunnah, maka akan kita dapati pula hal demi-kian ini pada zaman jahiliyah dulu ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam diutus.

Kaum musyrikin di zaman jahiliyah dulu ataupun pada zaman kita ini selalu beralasan bahwa mereka tidak me-nyembah sesembahan-sesembahan tadi mela-inkan hanya sebagai taqarruban (mendekat-kan diri) dan wasilah (perantara) kepada Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla mengkisahkan jawaban mereka ketika diperingatkan dari kesyirikan dalam firman-Nya:
أَلاَ لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ. الزمر: 3
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah me-reka melainkan supaya mereka men-dekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (az-Zumar: 3)

Siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang meminta sesuatu kepada selain Allah dimana mereka tidak mungkin akan dapat mengabulkannya sampai hari kiamat. Mereka telah mati, telah terputus hubungannya dengan kita dan berbeda alam-nya. Bahkan Mereka di alam barzakh disi-bukkan dengan urusannya sendiri.
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لاَ يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَآئِهِمْ غَافِلُونَ . الأحقاف: 5
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembah-an selain Allah yang tiada dapat memperke-nankan (do'a) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do'a mereka? (al-Ahqaaf: 5)

Mengapa tidak meminta secara langsung kepada yang Maha Mendengar dan Maha Melihat?
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ. الزمر: 60
Dan Rabb-mu berfirman: "Berdo'alah kepa-da-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagi-mu. Sesungguhnya orang-orang yang me-nyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam ke-adaan hina dina". (az-Zumar: 60)

Mereka yang dianggap oleh sebagian masyarakat dapat menyampaikan harapannya kepada Allah, dalam keadaan sedang sibuk mendekatkan diri mereka sendiri kepada-Nya, mengharapkan rahmat dari-Nya dan takut akan adzab-Nya. Dan mereka tidak dapat mendengarkan do’a mereka. Bahkan jika mereka adalah orang-orang yang shalih ketika hidup di dunia, tentu akan mengingkari kesyirikan ini pada hari kiamat kelak.
إِنْ تَدْعُوهُمْ لاَ يَسْمَعُوا دُعَآءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلاَ يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ. فاطر: 14
Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalaupun mere-ka mendengar, mereka tidak dapat memper-kenankan permintaanmu. Dan pada hari ki-amat mereka akan mengingkari kemusyri-kanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberi-kan oleh Yang Maha Mengetahui. (Faathir: 14)

Maka yang akan terjadi pada hari kiamat adalah mereka saling salah-menyalahkan sebagaimana dalam kelanjutan ayat dalam surat Al-Ahqaaf di atas:
وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ. الأحقاف
Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka. (al-Ahqaaf: 6)

Untuk itu perlu kita bahas makna ta-wassul dan wasilah. Karena jika terjadi kesa-lahan dalam masalah ini dapat menjerumus-kan seseorang dalam kesyirikan besar yang dapat menggugurkan seluruh amalannya.

Definisi tawassul
Tawassul berasal dari kata الوسيلة yaitu suatu sebab yang dapat menghantarkan pada tercapainya tujuan. Wasilah juga mempunyai makna yang lain, yaitu kedudukan di sisi raja, atau derajat dan kedekatan. Di dalam hadits berikut ini kata wasilah dipakai untuk pengertian “kedudukan tinggi di surga”.
إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلاَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِيْ إِلاَّ لَعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأَرْجُوْا أَنْ أَكُوْنَ هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةَ. (رواه مسلم
Apabila kamu mendengar (ucapan) mu-adzin, maka ucapkanlah seperti apa yang di-ucapkannya. Kemudian bershalawatlah ke-padaku karena sesungguhnya orang yang membaca satu shalawat kepadaku, maka Allah akan membalasnya sepuluh kali. Ke-mudian mintalah kepada Allah untukku wasilah, karena ia adalah kedudukan di surga yang tidak layak kecuali bagi seorang hamba di antara hamba-hamba Allah dan aku berharap menjadi orang tersebut. Ba-rangsiapa meminta untukku wasilah ter-sebut ia berhak memperoleh syafaat. (HSR. Muslim)

Itulah makna wasilah secara bahasa.

Adapun makna wasilah menurut al-Qur’an adalah sebagaimana firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. المائدة: 35
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwa-lah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihad-lah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (al-Maidah: 35)

Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah -ke-tika mengutip penafsiran Ibnu Abbas, Muja-hid, Abu Wail, Al-Hasan, Abdullah bin Katsir, Asu-Suddi, Ibnu Zaid dan lainnya- berkata bahwa wasilah di dalam ayat ini (al-Maidah ayat 35) ialah peribadatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Beliau juga menukil perkataan Qatadah mengenai ayat tersebut: “Mendekatkan kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan amal yang membuat-Nya ridla”.

Maka tawassul atau wasilah adalah mencari jalan kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan beribadah kepadanya dengan cara yang diajarkan oleh Rasul-Nya shalallahu 'alaihi wa sallam. Dengan demikian hendaklah orang yang berdo’a mengambil perantara agar dikabul-kan do’anya dengan perkara-perkara yang dicintai dan disukai oleh Allah, yaitu yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Bukan dengan kebidahan yang membuat Allah benci bukan pula dengan kesyirikan yang mambuat Allah murka!

Tawassul yang Disyariatkan
Ada beberapa macam tawassul yang di-syari’atkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam , yaitu:

1.Bertawassul dengan nama-nama Allah ta‘ala, sifat-sifat-Nya dan per-buatan-Nya
وَلِلَّهِ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا. الأنفال: 18
Hanya milik Allah asmaaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu … (al-Anfaal: 18)

Di antara tawassul dengan nama-nama Allah adalah ucapan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam:
أَللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ بْنُ أَمَّتِكَ نَصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ اللهُمَّ بِكُلِّّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَنْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا وَنُوْرَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمَّيْ وَغَمِّيْ. (رواه أحمد وصححه الألباني
Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, anak ham-ba-Mu yang laki-laki dan anak hamba-Mu yang perempuan. Ubun-ubunku ada di ta-ngan-Mu. Hukum-Mu telah berlaku atasku. Ketentuan-Mu telah adil bagiku. Aku memo-hon kepada-Mu, ya Allah, dengan semua nama yang Engkau miliki yang Engkau na-makan diri-Mu dengannya. Atau yang Eng-kau turunkan dalam kitab-Mu. Atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari hamba-Mu. Atau yang Engkau khususkan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu. Jadikanlah al-Qur’an al-Adhim sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihan dan kegelisahanku. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani)

Di antara tawassul dengan menyebutkan sifat-Nya adalah doa beliau shalallahu 'alaihi wa sallam:
أَعُوْذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ. (رواه مسلم
Aku berlindung dengan kemuliaan dan kekuasaan Allah dari kejelekan yang aku jumpai dan aku takuti. (HR. Muslim)

Dan di antara tawassul dengan perbuatan-perbuatan Allah adalah shalawat yang diajar-kan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam yang dikenal dengan shalawat Ibrahimiyah yaitu:
َّلهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ
Ya Allah, berilah shalawat kepada Muham-mad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarganya.

Kalimat “kama Shallaita” dalam hadits di atas yang artinya “sebagaimana Engkau memberi shalawat” merupakan salah satu perbuatan Allah.

2.Bertawassul dengan keimanan kepada Allah dan rasul-Nya

Adapun dalil bolehnya tawassul dengan keimanan yaitu, firman Allah:
رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ ءَامِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأَبْرَار. 193
Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mende-ngar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Rabb-mu", maka kamipun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesa-lahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. (Ali Imran: 193)

Dari ayat di atas disebutkan bahwa dengan sebab keimanan kami kepada rasul-Mu maka ampunilah dosa kami. Maka jadilah iman ke-pada Allah dan rasul-Nya menjadi wasilah atau sebab diampuni dosa-dosa.

3. Bertawassul dengan keadaan orang yang berdoa.

yaitu seorang yang berdoa bertawassul dengan keadaannya, seperti pernyataan seseorang ketika berdo’a:

أَللَّهُمَّ إِنِّي أَنَا الْفَقِيْرُ إِلَيْكَ، أَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَنَا اْلأَسِيْرُ بَيْنَ يَدَيْكَ
Ya Allah, sesungguhnya aku ini faqir sangat membutuhkanmu. Ya Allah sesungguhnya aku ini tawanan (budak) milikmu….

Adapun dalilnya adalah firman Allah:
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ.القصص: 24
"Ya Rabb-ku sesungguhnya aku sangat me-merlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". (al-Qashash: 24)

4. Bertawassul dengan doanya orang yang mungkin dikabulkan doanya.

Adapun dalilnya adalah ketika seseorang yang meminta Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam untuk berdoa kepada Allah agar diturunkan hujan, orang itu berkata: “Wahai Rasulullah, telah binasa harta benda kami dan terputus jalan-jalan, maka mohonkanlah kepada Allah agar menu-runkan hujan”. Maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa: “Ya Allah turunkanlah hujan, ya Allah turun-kanlah hujan”. (HR. Muslim)

Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa syarat orang yang diminta untuk berdoa adalah:
1. Hadir atau dapat mendengar permintaan orang tersebut.
2. Masih hidup dan dapat melakukan do’a tersebut.
3. Hati harus tetap yakin bahwa Allahlah yang akan menentukan segala sesuatunya. Tidak ada kecenderungan hati kepada selain-Nya.

Adapun meminta didoa-kan atau meminta disampaikan keinginannya kepada orang yang telah mati atau kepada kuburan-kuburan, atau kepada orang yang tidak hadir dan tidak mendengar walaupun masih hidup, maka yang demikian merupakan kesyirikan yang nyata.

5. Bertawassul dengan amal shalih; yakni menyebutkan dalam doanya amal shalih yang pernah dikerjakannya.

Hal itu seperti yang ditunjukkan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar, bahwa ada 3 orang laki-laki yang terkurung di dalam gua. Kemudian mereka berdoa dengan menyebut-kan amalan shalihnya masing-masing agar dibukakan pintu gua tersebut dari batu yang menutupinya. Akhirnya Allah mengabulkan doa mereka, dan mereka dapat keluar dari gua tersebut .

Demikianlah uraian ringkas tentang tawassul yang disyari’atkan dan peringatan terhadap bentuk-bentuk tawassul yang dapat menjerumuskan kita dalam kesyirikan. Semoga Allah senantiasa menjauhkan kita dari segala macam kesyirikan sehingga akan selamatlah amalan-amalan kita. Amien. Wallahu a’lam

Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Read More......

DAKWAH SALAF
DAKWAH TAUHID


Sesungguhnya istilah salaf atau dak-wah salaf bukanlah istilah baru. Istilah ini sudah dikenal sejak masa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana yang telah disinggung pada edisi perdana Risalah Dakwah ini. Yaitu ucapan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam kepada Fathimah:
فَاتَّقِى اللهَ وَاصْبِرِيْ فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ. (رواه مسلم، فضائل فاطمة 2/245حديث 98
Aku adalah sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu. (HR. Muslim)

Para shahabatpun sering menggunakan istilah salaf untuk menyebutkan tentang mereka-mereka yang sudah mendahuluinya. Seperti ucapan Anas bin Malik -seorang sha-habat yang paling akhir meninggal. Tatkala beliau melihat kerusakan-kerusakan kaum muslimin ketika itu, beliau berkata: “Kalau saja ada seseorang dari kalangan salaf yang pertama dibangkitkan hari ini, maka dia tidak akan mengenali Islam sekarang sedikitpun kecuali shalat ini”. (al-I’tisham, Imam asy-Syathibi, juz 1 hal 34)

Demikian pula para ulama sepeninggal beliau. Mereka pun sering menyebut istilah salaf untuk menerangkan bahwa jalan yang benar adalah jalan salaf, yakni jalannya para shahabat. Berkata Maimun bin Mahram meri-wayatkan dari ayahnya: “Kalau saja ada sese-orang dari kalangan salaf dibangkitkan di antara kalian niscaya dia tidak mengenali keislaman kecuali kiblat ini (al-I’tisham, Imam asy-Syathibi, juz 1 hal 34).

Oleh karena itu istilah salaf dikenal oleh para ulama untuk menunjukkan generasi per-tama dan utama dari umat ini seperti yang pernah diucapkan oleh Imam Bukhari, Ibnu Hajar al-Atsqalani dan selainnya. Simaklah apa yang dinasehatkan oleh Abu Amr al-Auza’i: “Sabarkanlah dirimu di atas jalan sunnah. Berhentilah kamu di mana kaum itu berhenti. Ucapkanlah apa yang mereka ucap-kan. Tinggalkanlah apa yang telah mereka tinggalkan dan jalanilah jalan salafmu yang shalih.” Beliau juga berkata: “Wajib bagi kali-an untuk berpegang dengan jejak-jejak salaf walaupun manusia menolakmu. Dan hati-hatilah kalian dari pendapat-pendapat ma-nusia walaupun mereka mengindahkan uca-pannya untukmu.” Dan masih banyak ucapan ulama yang lainnya.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam telah berpesan kepada kita untuk tetap berpegang dengan sunnahnya dan sunnah para shahabatnya:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ. (أخرجه الترمذي وحسنه الشيخ الألباني
Wajib atas kalian berpegang dengan sun-nahku dan sunnahnya para khulafaur Rasyi-din yang diberi petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi gerahammu. (HR. Tirmidzi dan diha-sankan oleh Al-Albani)

Dengan demikian dakwah salaf adalah dakwah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Sedangkan dakwah beliau adalah dakwah yang menyeru manusia kepada tauhid serta tegak di atas sunnah Nabi-Nya. Dengan sendi-rinya dakwah ini tidak memberikan tempat bagi kemusyrikan dan kebid’ahan. Allah Azza wa Jalla berfirman:
قُلْ هَذِهِ سَبِيْلِيْ أَدْعُوْا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيْرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآ أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. يوسف: 108
Katakanlah (Muhammad): “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku me-ngajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah dan aku bukan-lah termasuk orang-orang yang musyrik. (Yusuf: 108)

Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir ath-Thabari ketika menafsirkan ayat ini mengatakan bah-wa Allah ta’ala telah memerintahkan nabi-Nya untuk menyatakan inilah dakwah dan jalan yang aku menyeru dan berpijak di atas-nya, yaitu menyeru manusia untuk ber-tauhid, dan beribadah hanya kepada-Nya semata, yang berujung pada ketaatan kepadaNya dan tidak bermaksiat kepadaNya. Aku dan orang-orang yag mengikutiku me-nyeru hanya kepada Allah dengan hujjah yang dibimbing di atas ilmu dan keyakinan.

Berkata imam Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimy: “Dalam ayat ini terdapat beberapa faedah yang dapat kita ambil di antaranya:
1. Adanya peringatan untuk mengikhlaskan diri dalam beramal, karena kebanyakan da’i walaupun (seakan-akan) dia mendakwah-kan pada kebenaran, akan tetapi pada hake-katnya ia mendakwahkan kepada dirinya sendiri.
2. Memiliki بَصِيْرَةٍ “ilmu” adalah kewajiban bagi seorang da’i.
3. Termasuk dari bukti kebenaran tauhid ada-lah adanya pensucian bagi Allah ta’ala dari sifat-sifat tercela.
4. Termasuk dari bukti kejelekan syirik ialah bahwa syirik itu merupakan celaan bagi Allah ta’ala.
5. Seorang muslim tidak termasuk dari kaum musyrikin manakala ia tidak bergabung dengan kaum musyrikin walaupun tidak berbuat syirik.

Inilah perbedaan dakwah salaf dengan dakwah-dakwah lainnya yang memiliki kecen-derungan mengesampingkan tauhid dengan berbagai macam alasan.
Sebagian di antaranya menganggap tau-hid dan sunnah merupakan ilmu masa’il yang akan membikin ikhtilaf (perselisihan) dan perpecahan umat. Mereka hanya mau berbi-cara tentang ilmu fadhail (tentang keuta-maan-keutamaan ibadah).

Sebagian lagi mencela dakwah tauhid ini dengan alasan menyeru umat kepada tauhid hanya buang-buang waktu saja, tidak mema-hami fenomena yang sedang terjadi. Bukan-kah musuh-musuh Islam kini telah siap untuk menerkam umat dari segenap penjuru dan dari segala bidang?

Semua alasan yang diusung untuk me-nolak dakwah tauhid menjadi cukup bagi kita untuk menilai dakwah model apa yang mere-ka kehendaki. Semua tidak bergeser dari ke-pentingan politik dan duniawi semata.

Mengapa mereka menjadi heran tatkala didahulukannya permasalahan tauhid dalam dakwah salaf? Bukankah hak Allah ta’ala un-tuk di-Esa-kan dalam segala peribadatan kepada-Nya adalah lebih utama dan lebih berhak untuk didahulukan?! Perhatikan wasiat Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam kepada Mu’ad bin Jabbal tatkala beliau mengutusnya ke negeri Yaman:
إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُوْهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. (رواه البخاري ومسلم
Wahai Mu’adz, sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan ahlul kitab. Jika engkau telah datang kepada me-reka, ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disem-bah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah (HR. Bukhari Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan: “Maka hendaklah yang pertama kali engkau dakwahkan kepada mereka ialah عِبَادَةِ الله “beribadah kepada Allah (semata)”. Dan dalam riwayat lainnya disebutkan: أَنْ يُوَحِّدُوْا اللهَ “agar mengesakan Allah”

Mengapa para juru dakwah sekarang justru meremehkan hak Allah ini?! Bukankah hak Allah lebih utama untuk didahulukan? Bukankah dakwah tauhid merupakan kunci dakwahnya para rasul sebagaimana yang te-lah Allah abadikan dalam banyak ayat-Nya?.

Kita bisa perhatikan bagaimana nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya, nabi Hud kepada kaum ‘Ad, nabi Shalih kepada kaum Tsamud, demikian pula nabi Syuaib berdak-wah kepada kaum Madyan. Mereka –seluruh-nya- mendakwahkan tauhid dengan menga-takan kepada kaumnya:
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا للهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِهِ
Wahai kaumku, beribadahlah (hanya) ke-pada Allah yang mana tidak ada satu dzat pun yang berhak diibadahi kecuali Dia.

Demikian halnya pada diri Nabi Ibrahin –kekasih Allah, bapaknya para nabi dan seka-ligus sebagai imam bagi orang-orang yang bertauhid-. Beliau mengkhawatirkan kesyi-rikan akan menimpa pada dirinya dan ketu-runannya, sehingga beliau beliau berdoa ke-pada Allah dengan menyatakan:
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ ءَامِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ اْلأَصْنَامَ رَبِّ إِنَّهُنَّ أَ ضْلَلْنَ كَثِيْرًا مِنَ النَاسِ... ابراهيم: 35-36
Wahai rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Me-kah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Wahai rabb-ku, sesungguh-nya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia (Ibrahim: 35-36)

Jika nabi Ibrahim mengkhawatirkan di-rinya dan keturunannya dari tertimpa ke-musyrikan, maka siapakah orangnya yang bisa menjamin dirinya terlepas dari bahaya kesyirikan? Dan siapakah orangnya yang me-rasa lebih baik wasiatnya daripada wasiatnya para nabi yang telah disampaikan kepada kaumnya?

Demikianlah mereka –para nabi- dalam berdakwah! Meskipun mereka menghadapi budaya yang beraneka ragam dan problem yang bermacam-macam, akan tetapi dakwah mereka yang utama adalah dakwah kepada tauhid.

Walaupun problem yang mereka hadapi adalah masalah perekonomian –sebagaimana yang terjadi pada kaum Madyan- ataupun problemnya adalah masalah politik, sosial, akhlaq dan lain-lain. Mereka tetap memulai-nya dengan mendakwahkan tauhid kepada kaumnya.

Yang demikian itu karena perbaikan tauhid dalam masalah agama ini adalah seperti memperbaiki jantung pada badan manu-sia. Tidak akan bermanfaat mengobati anggo-ta badan, jika jantungnya telah berhenti berdetak. Demikian pula tidak akan diterima amalan ibadah apapun jika tauhid telah rusak dengan perbuatan syirik-syirik besar. Allah Azza wa Jalla berfirman:
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ الزمر: 65
Jika kamu mempersekutukan (rabb-mu), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (az-Zumar: 65)

Dalam sebuah hadits riwayat Nu’man bin Basyir radhiallahu 'anhu , Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَلاَ إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. (رواه البخاري ومسلم
Ketahuilah bahwasanya dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika baik segumpal daging itu, maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan jika rusak segumpal daging segumpal da-ging tersebut, maka rusak pula seluruh tu-buhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. (HR. Bukhari Muslim)

Hadits ini merupakan hujjah, bahwa perba-ikan hati dalam arti perbaikan aqidah dan keyakinan memiliki prioritas utama.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang ingin meninggikan ba-ngunan, maka hendaklah ia memantapkan fondasinya, menguatkan dan harus lebih memperhatikannya. Karena sesungguhnya tingginya bangunan itu sesuai dengan kuat-nya fondasi dan kemantapannya. (Lihat Sittu Durari, karya Abdul Malik Rhamadhani, hal 13)

Selanjutnya Ibnul Qayyim berkata: “Orang yang bijaksana akan lebih memperha-tikan perbaikan fondasinya. Sedangkan orang-orang yang bodoh akan meninggikan bangunan tanpa memperhatikan kondisi fon-dasinya, sehingga tidak berapa lama lagi ba-ngunan itu akan runtuh”. (Lihat Sittu Durari, karya Abdul Malik Rhamadhani, hal 14)

Allah Azza Wa Jalla berfirman:
أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِى نَارِ جَهَنَّمَ... التوبة: 109
Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunan-nya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam neraka Jahannam? (at-Taubah: 109)

Ayat ini berkenaan dengan perbuatan kaum munafiqin ketika membangun masjid dalam keadaan hati mereka tidak memiliki aqidah dan keimanan yang benar. Apa yang dikerja-kannya merupakan pekerjaan sia-sia. Adapun yang membangun di atas fondasi tauhid dan ketaqwaan, maka bangunannya akan kokoh.

Tauhid bagaikan akar pada sebuah pohon. Jika akar itu menghunjam ke bumi de-ngan mantap, maka pohon itu akan tegak berdiri menjulang ke langit.

Berkata Ibnul Qayyim: “Tahun adalah ibarat sebuah pohon, bulan adalah cabang-cabangnya, hari adalah ranting-rantingnya, saat demi saat adalah daun-daunya dan nafas merupakan buahnya. Barangsiapa yang me-makai waktunya dalam ketaatan kepada Allah, maka buahnya manis. Dan barangsiapa yang menggunakannya dalam kemaksiatan, maka buahnya pahit dan hasil buahnya kelak akan dipanen pada hari kiamat. Manusia akan mendapatkan manisnya hasil amalannya di dunia atau pahitnya buah yang dia rasakan.

Tauhid adalah pohon yang tumbuh dalam hati dan cabangnya adalah amalan, ada pun buahnya adalah kebahagiaan hidup di dunia dan kenikmatan yang kekal di akhirat. Sedangkan kesyirikan, kekufuran dan riya’ juga merupakan pohon yang tumbuh dalam hati, buahnya di dunia berupa ketakutan, gundah gulana, sempit dada dan kegelapan hati. Sedangkan buahnya di akhirat berupa Zaqum yang tidak mengenyangkan dan tidak pula menghilangkan rasa haus. Buah ini bah-kan akan merobek tenggorokan dan meng-hancurkan seluruh tubuhnya, dan buahnya adlah kekekalan adzab di akhirat.
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى السَّمَآءِ.... وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ اْلأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ. ابراهيم: 24-26
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (kalimat tauhid) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya men-julang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin rabb-nya………. Dan perumpamaan kalimat yang buruk (kalimat kufur, syirik) adalah seperti pohon yang buruk,yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. (Ibrahim: 24-25). Wallahu a’lam

Ustadz Muhammad Umar Assewed

Read More......